Belajar Konsep Rejeki Dari Penjual Es Cincau

 

www.dailyapreal.com
www.dailyapreal.com

Siang itu tiba-tiba saja ingin sekali melahap sepotong cake manis dan segelas minuman manis segar. Mungkin karena cuaca yang memanas. Coba ah lihat stok bahan makanan di dapur. Sayangnya, tidak ada bahan yang cukup untuk diolah. Ada sih tepung terigu, mentega dan telur. Tapi otaknya yang mandeg ide untuk mengolah…heheheh….Ya sudahlah coba cari di toko kue biasanya, mungkin ada yang menggugah selera. Kebetulan Si Tengah kok ya ingin makan cake. Akhirnya, berangkatlah kita berdua dengan mengendarai sepeda motor merah.

Di jalan masih bingung mau beli minuman apa. Sambil clingak clinguk kanan kiri, mungkin ada minuman yang cocok. Hembusan angin siang itu hampir saja membuat mata ini memejam karena ngantuk. Untung saja sambal diajak ngobrol sama Si Tengah.

Sampai di tikungan perlintasan kereta api, dari jauh terlihat gerobak es. Nah, kayaknya minum segelas es cincau seger nieh…. Ku hentikan sepeda motor tepat di samping gerobak es. Namun tak ku lihat si penjual disana, hanya ada sepasang bapak dan ibu paruh baya yang sedang duduk.

Lalu ku tanyakan pada mereka dimanakah gerangan si penjual es.

“Permisi bu, penjualnya kemana ya?” tanyaku dengan sopan.

“Masih sholat mbak” jawab Ibu.

“Oh iya bu” balasku.

Dasar kurang cermat, padahal si penjual sudah menulis di selembar kertas kardus “MASIH SHOLAT” yang disandarkan di atas tumpukan gelas.  

Lalu ku ajak Si Tengah duduk di sebelah ibu dan bapak itu. Si penjual menyediakan 4 buah kursi plastik untuk para pembeli yang ingin meminum es cincau di sana. Sambil menunggu, ku ajak Si Tengah ngobrol agar tidak merasa bosan karena terlalu lama menunggu. Saat kami tiba, adzan baru selesai berkumandang. Jadi ya sepertinya lumayan lama untuk menunggu.

Tiba-tiba Si Tengah bertanya, “Mi, Kok lama ya? Pulang aja wes”.

“Sabar, paling sebentar lagi selesai sholatnya” jawabku. Moment ini jadi kesempatan untuk menanamkan konsep tawakal kepada Si Tengah.

“Mas, penjual es lo mau sholat tepat waktu. Padahal kan jualannya di pinggir jalan. Nda ada yang jaga gerobaknya, cuma dikasih tulisan aja kayak itu (kutunjukkan tulisan di kardus). Mas kalo di rumah lagi main trus denger ada adzan langsung sholat nda?” tanyaku.

“Mas kan nda sholat mi, mbak itu lo” jawab Si Tengah. Usia Si Tengah saat ini menginjak 4 tahun. Untuk sholat ya masih pembiasaan saja. Kadang ikut, kadang juga tidak.

“Nah berarti mas yang harus mengingatkan mbak ya, kalau lagi main trus dengar adzan, mainnya berhenti dulu. Dilanjutkan lagi setelah sholat, masak kalah sama penjual es cincau. Padahal banyak lo yang mau beli es, tuh lihat masnya (kupalingkan wajahnya pada sosok mas-mas yang tak jadi membeli karena mungkin terlalu lama menunggu), ngga jadi beli” jelasku.

“Mas, rejeki itu kan yang ngasih Allah. Pembeli yang datang kesini juga karena Allah yang menunjukkan. Meskipun kita lagi jualan, trus jualannya di tinggal untuk sholat rejekinya ndak akan dikurangi, ndak akan tertukar. Kayak pak penjual es ini. Lebih menomorsatukan sholat daripada berjualan” jelasku panjang lebar.

Tak lama Si Penjual pun datang dari arah masjid di pertigaan jalan dengan sebuah tas yang diselempangkan di pundaknya.

Dalam hati ada rasa haru sekaligus takjub. Masa pandemi saat ini, mayoritas masyarakat jibaku untuk mengais rejeki entah dengan cara yang halal atau tidak, masih ada sosok seperti bapak penjual es cincau ini. Kehidupan para pedagang kaki lima yang mungkin sedang di fase susah, sedangkan kebutuhan sehari-hari tak bisa dielakkan. Dengan harga segelas es cincau 2.000 rupiah, mungkin keuntungan yang diperoleh tak seberapa. Tapi bapak ini memberikan pelajaran nyata tentang konsep rejeki.

Mungkin banyak orang mengira, rejeki itu manusialah yang mendatangkan dengan usaha yang dicurahkan seperti bekerja menjadi penjual, pengajar, atau tukang kayu, dll. Kalau tidak bekerja, tidak akan mendapat rejeki. Faktanya, sudah banyak orang yang berusaha keras tetapi rejeki tak kunjung datang bahkan tidak jarang justru kerugian yang di dapat. Ada pula, yang santai usahanya, tapi rejeki mengalir terus. Jadi, usaha yang manusia lakukan bukanlah sebab utama datangnya rejeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia kapan waktunya, berapa jumlahnya, dan melalui siapa.

Dari penjual es cincau ini kita belajar bahwa rejeki manusia itu sudah dijamin oleh Allah. Takarannya pun juga sudah ditetapkan. Allah tetap memberikan rejeki meskipun diperoleh dengan cara halal atau haram. Namun, tentu ada konsekuensinya, jika dengan cara halal pasti akan membawa keberkahan dan pahala. Sebaliknya, jika dengan cara haram pasti akan mendatangkan kesempitan hidup dan dosa. 

Selamat mencari rejeki di muka bumi Allah!!!


#komunitasodop #onedayonepost #odop9 #odopday1 


Komentar

  1. Banyak orang selama hampir stres mikirin uang padahal. Kita semua akan selalu diberi rezeki oleh Tuhan.

    BalasHapus
  2. Compulsive inventory trading also lacks the social stigma that will act as a deterrent toward conventional forms of playing, the actual fact} that|although} the stimulation behind both is comparable, they said. Whether you are looking at enterprise sectors in the subsequent town or crosswise over continents, we understand the significance of being acquainted with the client’s buy. We overcome our clients’ points by recognizing and deciphering the goal group and producing leads with utmost precision. We search to collaborate with our shoppers to ship a broad spectrum of outcomes via a mix of market and enterprise analysis approaches. Many foreigners do struggle with this, and playing dependancy in South Korea has become a huge downside. Another means have the ability to|you possibly can} deposit cash into a playing site 카지노사이트 is by using cryptocurrency.

    BalasHapus

Posting Komentar